Awali Pembelajaran, RTQ dan Madin Darul Ulum Al-Fadholi Gelar Halal Bihalal Penuh Keberkahan
Bagikan Konten ini :
Malang – Suasana hangat, religius, dan penuh kekeluargaan menyelimuti Masjid Al-Fadholi 2 pada Senin sore (6/4/2026). Mengawali agenda pembelajaran pasca libur panjang, Keluarga Besar RTQ dan Madin Darul Ulum Al-Fadholi menggelar acara Halal Bihalal yang dihadiri oleh ratusan santri beserta dewan asatidz.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 15.30 WIB ini terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh jajaran pengasuh, yakni Ibu Nyai Hj. Nurul Aminah dan Gus H. M. Ashif Fadhli Zamzami. Acara ini menjadi momentum emas untuk saling memaafkan sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah di lingkungan pesantren.






Sambung Sanad Melalui Tawassul dan Tahlil
Sebagai lembaga pendidikan yang berpegang teguh pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, acara tidak langsung diisi dengan seremonial semata. Kegiatan diawali dengan pembacaan Tawassul, Surat Yasin, dan Tahlil.
Lantunan doa ini dikhususkan bagi para Masyaikh pendahulu, di antaranya Syech Abul Fadhol As-Senori, KH. Arwani Amin, dan KH. M. Rofi’ Mahmud, serta almarhum dan almarhumah dari keluarga besar RTQ dan Madin. Hal ini menjadi bentuk birrul walidain (bakti) dan upaya menyambung keberkahan ilmu dari para guru.
Harapan Asatidz: Perkokoh Kebersamaan
Dalam sesi sambutan, Ketua RTQ, Ustadz Fahri, bersama Ketua Madin, Ustadz Asrof, menyampaikan pesan yang senada. Keduanya menekankan pentingnya sinergi dan kebersamaan antara santri, asatidz, dan pengasuh.
Melalui momen Halal Bihalal ini, diharapkan rasa kekeluargaan semakin erat, sehingga proses belajar mengajar Al-Qur’an dan ilmu agama (Madin) ke depannya dapat berjalan dengan lancar dan penuh rida dari Allah SWT. Acara ini juga difokuskan murni untuk silaturahmi spiritual, sehingga terselenggara secara mandiri tanpa adanya penggalangan donasi atau sumbangan apa pun.
Mauidhoh Hasanah: Memaafkan Meninggikan Derajat
Puncak acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Ustadz Faiz. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa memberi maaf tidak akan pernah merendahkan harga diri seseorang, justru sebaliknya, akan meninggikan derajatnya di sisi Allah.
Pesan ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 134:
“…وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Lebih lanjut, Ustadz Faiz menjelaskan keutamaan meninggalkan dendam. Beliau mengutip sebuah hadits sahih dari Rasulullah SAW terkait kemuliaan sifat pemaaf:
“وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا”
“Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena memaafkan, melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim)
Menyambung tali silaturahmi dengan hati yang bersih setelah Ramadhan, lanjut Ustadz Faiz, adalah kunci terbukanya pintu rezeki. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang ingin diluangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” (HR. Bukhari).
Sebagai penutup tausiyah, beliau mengutip untaian hikmah dari Kalam Ulama, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
“Seburuk-buruknya bekal menuju alam akhirat adalah permusuhan (dendam) kepada sesama hamba.” Acara kemudian ditutup dengan tradisi saling bersalaman (musafahah), melebur segala khilaf dan dosa di antara para santri, asatidz, dan pengasuh, menyisakan kebahagiaan dan lembaran baru yang suci.



Tinggalkan Balasan